Babak Baru Kelompok Penyanyi Jalanan Makassar: Melodi Perjuangan dan Asa di Usia ke-19

Babak Baru Kelompok Penyanyi Jalanan Makassar: Melodi Perjuangan dan Asa di Usia ke-19

pemkot-makassar

SATUKLIKMEDIA.COM, MAKASSAR —Deru gitar akustik dan vokal yang penuh semangat memecah keramaian Jalan Hasanuddin, Makassar. Selama tiga hari, denyut jalanan seolah berpusat di satu titik, bukan karena kemacetan, melainkan perayaan. Di sanalah, Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Makassar merajut asa, merayakan Milad ke-19 sekaligus menandai dimulainya sebuah era baru dengan pelantikan ketua untuk periode 2025-2030.

Panggung yang disiapkan selama dua bulan itu tak hanya menjadi saksi bisu, tetapi juga kanvas bagi ekspresi para seniman. Anggota KPJ dari berbagai generasi, bersama musisi-musisi lokal, silih berganti mengalunkan melodi. Ini bukan sekadar pesta, melainkan sebuah manifestasi dari perjalanan panjang mereka—sebuah deklarasi bahwa musik mereka punya ruang dan martabat.

Di tengah gempita perayaan, momen pelantikan menjadi titik fokus yang sarat makna. Ketua KPJ Makassar yang baru, dalam pidato pertamanya, menyuarakan sebuah janji yang lebih dari sekadar formalitas. Ia berbicara tentang komitmen, tentang eksistensi, dan tentang sebuah perjuangan untuk mengubah citra.

“Pahami kami bukan sebagai pengamen, tapi sebagai seniman jalanan,” tegasnya dengan suara lantang, disambut riuh tepuk tangan. “Kami di sini untuk berkarya, untuk menghibur secara profesional. Kami memegang lisensi sebagai bukti komitmen kami untuk tidak menjadi gangguan, melainkan bagian dari harmoni kota ini.”

Pernyataan itu adalah puncak dari evolusi panjang KPJ Makassar. Sejak didirikan pada 27 Juli 2006, organisasi ini telah bertransformasi dari sekumpulan individu lepas menjadi sebuah komunitas yang terstruktur dan diakui. Mereka sadar betul akan stigma yang melekat pada musisi jalanan, terutama yang kerap beraksi di lampu merah.

Karena itulah, KPJ Makassar proaktif menjalin jembatan dengan Pemerintah Kota Makassar. Melalui kolaborasi erat dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Sosial, mereka merumuskan jalan keluar. Tujuannya jelas: memindahkan panggung mereka dari persimpangan jalan yang riuh dan rawan ke ruang-ruang yang lebih terhormat seperti kafe, rumah makan, dan berbagai acara formal.

Kerja sama ini bukan sekadar memberi mereka tempat, tetapi juga pengakuan. Kini, suara mereka tidak lagi bersaing dengan deru knalpot, melainkan menjadi melodi pengiring suasana yang dinikmati dengan saksama.

Milad ke-19 ini menjadi bukti nyata dari ketangguhan dan visi mereka. Di bawah kepemimpinan yang baru, KPJ Makassar siap melanjutkan perjalanan, memastikan bahwa seniman jalanan tidak lagi dipandang sebelah mata, tetapi dihargai sebagai pekerja seni yang turut mewarnai jiwa Kota Daeng. Pesta boleh usai, tapi melodi perjuangan mereka akan terus bergema di setiap sudut kota. (AKa)

Leave a Reply