Seindah Apapun Ibadah, Jika Menyimpang dari Aturan, Akan Tertolak

Oleh, Baron Nebo

pemkot-makassar

Di tengah maraknya kreativitas umat dalam beribadah, baik secara individu maupun kolektif, sering kali muncul pertanyaan mendasar: “Apakah semua bentuk ibadah yang niatnya baik akan diterima?” Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa hanya didasarkan pada niat, tetapi juga harus berlandaskan pada syariat. Ibarat pertandingan sepak bola, sebuah gol seindah apapun tidak akan sah apabila terjadi dalam posisi offside. Begitu pula dalam beribadah, keindahan, niat, dan semangat tidak cukup jika tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi penting dalam menilai segala bentuk ibadah dan ritual keagamaan. Prinsipnya jelas: agama ini sudah sempurna, dan Rasulullah telah menyampaikannya secara utuh. Maka setiap bentuk penambahan atau pengurangan dalam urusan ibadah yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, meski dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang menarik, tetap harus ditolak.

Fenomena saat ini menunjukkan adanya kecenderungan sebagian umat untuk melakukan berbagai bentuk ibadah baru dengan dalih “menyesuaikan zaman” atau “menarik generasi muda”. Namun, perlu kita renungkan kembali: apakah pendekatan ini benar-benar membawa maslahat atau justru mengaburkan batas antara ibadah dan inovasi yang tidak dibenarkan?

Dunia saja memiliki aturan main. Dalam olahraga, ekonomi, hingga lalu lintas, semua memiliki regulasi yang harus dipatuhi agar sistem berjalan tertib. Lalu, mengapa dalam urusan akhirat, yang jauh lebih penting dan abadi, kita justru merasa bebas untuk berkreasi tanpa batas? Tidakkah ini justru menunjukkan kurangnya kesungguhan kita dalam menjunjung tinggi ajaran Allah dan Rasul-Nya?

Menjadi umat Rasulullah berarti mengikuti beliau secara utuh baik dalam keyakinan, ibadah, akhlak, hingga cara hidup. Maka, mari kita tempatkan semangat beribadah dalam rel yang benar. Bukan hanya semangat yang membara, tetapi juga dibingkai dengan ilmu, tuntunan, dan keteladanan yang sahih. Karena pada akhirnya, hanya Allah-lah pemberi petunjuk dan penilai segala amal.

Leave a Reply